Prediksi Campaign Ramadan 2026 di Online Shop

Prediksi Campaign Ramadan 2026 di Online Shop

Posted by Fullstop Indonesia on 12 February 2026

Ramadan selalu menjadi momen penting dalam kalender pemasaran digital Indonesia, termasuk di marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan juga di platform social commerce berbasis video seperti TikTok Shopping. Meski sebagian orang berpendapat tren belanja online mulai “menurun” karena sebagian konsumen beralih ke offline, data perilaku belanja terbaru menunjukkan bahwa belanja online selama Ramadan tetap memiliki lonjakan transaksi yang signifikan, terutama di waktu tertentu dan kategori produk tertentu. Ini membuat perencanaan campaign jauh lebih kompleks daripada sekadar “ikut sale”.

Untuk brand yang ingin menang di Ramadan 2026, memahami pola pasar dan mempersiapkan branding strategy serta marketing activation yang relevant adalah kunci. Jadi, bukan hanya fokus pada diskon, tapi bagaimana brand tampil smart di hadapan konsumen yang kini jauh lebih kritis dalam memilih channel belanja.

    1. Waktu & Pola Belanja yang Berubah: Sahur sebagai Puncak Transaksi

      Salah satu insight paling menarik dari tren belanja online Ramadan 2025 adalah fenomena lonjakan transaksi saat sahur. Di Tokopedia dan TikTok Shop, misalnya, nilai pembelian meningkat lebih dari sepuluh kali lipat selama periode sahur dibandingkan jam biasa. Ini mengindikasikan pergeseran waktu belanja online yang memanfaatkan waktu hening sebelum berbuka, yang secara psikologis konsumen gunakan untuk browsing dan transaksi.
      Jika tahun-tahun sebelumnya puncak aktivitas ecommerce Ramadan sering berada di sore hari saat ngabuburit atau malam hari menjelang tidur, pola baru ini mengajak marketer memikirkan momentum waktu campaign yang berbeda. Brand yang bisa menyesuaikan waktu konten, termasuk livestreaming penjualan, flash deals, atau konten edukasi produk, saat sahur berpeluang mendapat engagement lebih tinggi.
    2. Perubahan Preferensi Platform: Competitor Landscape yang Masih Dinamis

      Data survei juga menunjukkan bahwa secara umum platform belanja online memiliki posisi penggemar yang berbeda berdasarkan demografi. Shopee tetap menjadi platform favorit utama bagi banyak konsumen saat Ramadan, sementara Tokopedia lebih populer di kalangan laki-laki dan TikTok Shop kuat di segmen ibu-ibu dan generasi muda. Perbedaan ini menjadi strategi marketing activation penting bagi brand yang ingin menangkap perhatian target audiens. Tidak semua campaign harus berlangsung di semua platform secara seragam. Sebaliknya, brand yang cermat akan:
      • menempatkan pesan khusus di platform yang audiensnya paling relevan,
      • menyesuaikan format konten (misalnya video singkat di TikTok vs flash deals di Shopee),
      • dan memaksimalkan fitur kampanye masing-masing platform seperti live shopping, integrated seller tools, serta program Ramadan khusus.
      Pendekatan ini bukan sekadar “ikut sale”, tetapi mengoptimalkan channel sesuai karakter audiens. Ini adalah langkah yang sering ditekankan oleh FULLSTOP Branding Agency Indonesia dalam merancang branding strategy yang efektif.
    3. Promo Tidak Lagi Sekadar Harga: Value Experience Lebih Penting

      Selama beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan fenomena promo besar yang hampir sama di setiap periode besar tahunan. Namun, ketika semua brand berlomba potongan harga, konsumen justru menjadi lebih “kritis” terhadap nilai yang ditawarkan. Di beberapa komunitas penjual, ada diskusi bahwa diskon kini sudah diprediksi, sehingga tidak lagi cukup untuk mendorong keputusan beli secara signifikan.
      Di sinilah branding strategy merek perlu beralih dari sekadar promo harga menjadi value experience yang lebih bermakna. Campaign Ramadan 2026 tidak hanya soal indikator angka persen diskon, tetapi soal bagaimana brand bercerita mengenai relevansi produk di bulan puasa: apakah produk itu membantu ritual sahur atau buka, apakah konten edukasinya membantu konsumen membuat pilihan, dan apakah pesan kampanye terasa empati terhadap nuansa Ramadan.
      Brand yang mampu menyampaikan value secara emosional dan kontekstual akan lebih mudah membuat audience merasa terhubung — dan bukan hanya melakukan transaksi karena harga murah semata. Ini adalah fase di mana brand punya kesempatan memperkuat brand positioning agar tetap diingat setelah Ramadan berlalu.
    4. Live Shopping & Konten Video Tetap Berperan Besar

      Melihat tren konten digital, platform seperti TikTok dan juga marketplace lain memperlihatkan bahwa long-form engagement melalui live shopping menjadi salah satu channel conversion yang kuat selama Ramadan. Di TikTok Shop saja, jutaan video diproduksi oleh penjual dan kreator di pekan pertama Ramadan 2025, dan live streaming merupakan pendorong traffic signifikan.
      Ini menegaskan bahwa campaign populer bukan hanya soal promo besar, tetapi yang paling efektif memadukan konten dan penjualan: live yang interaktif, storytelling produk yang otentik, serta creative touch yang sesuai konteks Ramadan. Kehadiran host yang relatable, content creator yang memahami nuansa bulan puasa, dan narasi yang relevan akan memperkuat marketing activation dibanding sekadar “pasang banner promo”.
    5. Siapkan Brand Campaign yang Lebih Holistik & Terukur

      Berdasarkan tren belanja online sebelumnya dan prediksi perilaku konsumen di Ramadan 2026, ada beberapa persiapan strategis yang perlu dipertimbangkan brand:
      1. Menyesuaikan kalender konten dan budget iklan untuk peak hour seperti sahur, bukan hanya sore atau malam.
      2. Menyusun pesan kampanye yang lebih dari sekadar “diskon besar”, tetapi berbicara pada rasa dan nilai Ramadan — seperti convenience, sharing, atau inspirasi gifting.
      3. Membangun collaboration content dengan kreator yang kredibel untuk konten live dan video pendek yang lebih engaging serta aligned dengan branding strategy brand.
      4. Mengoptimalkan fitur platform spesifik seperti Shopee Live, program Ramadan di Tokopedia, dan konten branded di TikTok yang sesuai audiens target.
      Dalam konteks ini, FULLSTOP Creative Agency Surabaya sering menekankan pentingnya data-driven planning sebelum Ramadan tiba, agar brand tidak bereaksi telat terhadap perilaku pasar yang sebenarnya sudah bisa diprediksi dari tren tahun sebelumnya.

Siap-siap Sales Melejit 10x Lipat di Ramadan 2026

Ramadan 2026 tetap akan menjadi periode penting di ranah e-commerce, tetapi cara brand mendekatinya harus lebih pintar dan kontekstual. Belanja online masih tetap ramai — bahkan menunjukkan tren pembelian di waktu-waktu spesifik seperti sahur — namun promo harga saja tidak lagi cukup untuk membangun efek jangka panjang.

Brand perlu menyusun marketing activation yang relevan di setiap channel, memperkuat narasi value, serta memanfaatkan timing audience dengan cermat. Dengan demikian, campaign Ramadan bukan hanya soal angka transaksi sesaat, tetapi momentum memperkuat brand positioning dan engagement yang bertahan jauh setelah bulan suci berlalu.

Dan di sinilah peran strategi matang menjadi pembeda antara brand yang tampak ramai tetapi cepat lupa, dan brand yang benar-benar melekat di benak konsumen.

Back To List Blog