
Efektivitas Sahur Scroll di Ramadhan 2026
Selama bertahun-tahun terakhir, istilah “sahur scroll” , yaitu kebiasaan konsumen membuka aplikasi belanja online dan melakukan transaksi saat waktu sahur, jadi pembicaraan hangat di dunia e-commerce. Pada Ramadhan 2025, fenomena ini bahkan sempat tercatat sebagai salah satu puncak aktivitas digital, dimana transaksi online meningkat signifikan pada dini hari menjelang sahur di beberapa platform besar seperti Tokopedia dan TikTok Shop, bahkan hingga lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan jam biasa.
Tetapi memasuki Ramadhan 2026, gambaran tersebut mulai terasa berubah. Bukan berarti sahur scroll hilang sepenuhnya, tetapi efektivitasnya sebagai momentum belanja online yang bisa diandalkan oleh brand semakin dipertanyakan. Tren ini berakar pada perubahan perilaku konsumen yang lebih kompleks ketimbang sekadar kebiasaan lama, serta dinamika hubungan antara online dan offline yang makin saling mempengaruhi.
Sahur Scroll: Dulu Trending, Sekarang Tidak Lagi “Tak Terbantahkan”
Idealnya, ketika konsumen terjaga di waktu sahur, mereka punya waktu luang dan cenderung membuka aplikasi belanja online. Ini memang sempat menjadi fakta nyata yang dibagikan oleh sejumlah pelaku e-commerce. Pada Ramadhan sebelumnya, waktu sahur disebut sebagai periode “ideal” bagi konsumen Indonesia untuk melakukan transaksi, terutama untuk kebutuhan produk harian dan persiapan Ramadan.
Namun, data survei perilaku belanja terbaru menunjukkan bahwa aktivitas belanja online pada sahur bukan lagi puncak utama. Aktivitas belanja online selama Ramadan ternyata lebih sering terjadi pada siang hari, sore menjelang buka, dan malam awal setelah berbuka. Meski sahur tetap punya lonjakan transaksinya sendiri, persentase aktivitas sahur cenderung lebih rendah dibanding puncak lain sepanjang hari.
Ini menunjukkan bahwa, meskipun sahur scroll pernah menjadi tren kuat, efektivitasnya kini tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar strategi digital brand untuk campaign Ramadan 2026. Bahkan dalam beberapa kasus, sahur scroll justru menjadi lebih cocok sebagai insight tambahan untuk optimasi waktu konten, bukan sebagai indikator utama bagi semua kategori produk.
Gen Z dan Konsumen Modern Mulai Beralih ke Offline untuk Kebutuhan Praktis
Lebih jauh lagi, paradigma belanja itu sendiri mulai bergeser. Walau belanja online terus tumbuh dan marketplace besar selalu mencatat lonjakan transaksi tahunan saat Ramadan, data perilaku konsumen menunjukkan bahwa banyak orang masih melakukan sebagian besar pembelian kebutuhan harian secara offline, termasuk pada momen Ramadhan. Survei menemukan bahwa sebagian besar konsumen Indonesia, termasuk yang aktif belanja online, tetap mengunjungi toko fisik sebelum melakukan pembelian.
Ini bukan hanya tentang kebiasaan lama, tapi tentang rasionalitas. Untuk kebutuhan sehari-hari seperti bahan pangan, rempah, kebutuhan sahur/buka, atau barang yang mudah ditemukan di minimarket dekat rumah, banyak konsumen, terutama generasi muda seperti Gen Z, memilih membeli secara langsung daripada menunggu proses kirim yang bisa memakan waktu. Di tengah kemudahan offline yang dekat, cepat, dan instan, sahur scroll yang memicu pembelian barang kebutuhan rutinitas menjadi kurang relevan dibandingkan beberapa tahun lalu di saat pandemi COVID-19.
Perilaku ini juga tercatat dalam survei perilaku belanja yang menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen lebih suka berbelanja di pasar tradisional atau toko fisik untuk barang-barang yang mereka butuhkan secara cepat, sementara belanja online banyak terjadi pada kategori lain seperti fashion, gadget, atau persiapan Lebaran/Idul Fitri jauh sebelum bulan Ramadan tiba.
Apa Artinya Bagi Brand di Ramadhan 2026?
Bagi brand yang ingin berjaya di periode Ramadhan, pendekatan lama yang mengandalkan sahur scroll sebagai momen pemasaran utama perlu dikaji ulang dalam marketing strategy yang lebih matang.
Pertama, brand harus memahami bahwa waktu dan kontekstualitas masih penting, tetapi tidak lagi otomatis sama untuk semua kategori produk. Sahur mungkin efektif untuk beberapa kategori tertentu, misalnya produk digital, konten hiburan, atau kebutuhan konsumsi impulsif, tetapi untuk barang kebutuhan sehari-hari, konsumen lebih memilih akses offline yang cepat.
Kedua, peran sahur dalam strategi digital perlu disesuaikan sebagai bagian dari rangkaian jadwal konten yang lebih luas. Alih-alih seluruh budget kampanye difokuskan untuk waktu sahur, brand kini perlu menempatkannya sebagai touchpoint additional di tengah rangkaian jam aktif lain, seperti sore menjelang buka, malam setelah buka, atau weekend jauh sebelum Ramadan.
Ketiga, optimasi konten dan pendekatan narasi juga harus berubah. FULLSTOP Branding Agency Indonesia sering menekankan bahwa brand story perlu relevan dengan konteks kehidupan konsumen saat itu. Di Ramadhan 2026, narasi kampanye yang mengintegrasikan pesan offline dan online, memberi pengalaman nyata, serta mengangkat tradisi keseharian akan lebih beresonansi dibandingkan sekadar promosi di puncak sahur.
Perpaduan Online–Offline: Kunci Strategi yang Lebih Sustainable
Di sinilah peran penting dari omnichannel strategy dan pendekatan hybrid muncul. Data menunjukkan bahwa meskipun belanja online masih meningkat secara tahunan, offline belum kehilangan relevansinya di banyak kategori, bahkan dalam periode Ramadhan. Ini mencerminkan bahwa konsumen Indonesia tidak sepenuhnya berpindah ke digital, melainkan menggabungkan keduanya berdasarkan kebutuhan, kenyamanan, dan urgensi.
Bagi brand yang berada di bisnis Surabaya maupun kota-kota lainnya, ini berarti marketing strategy yang efektif adalah yang mampu mengintegrasikan pengalaman offline dengan digital, bukan hanya mengejar momen sahur scroll semata.
Kampanye Ramadan yang efektif harus mempertimbangkan momentum offline, seperti event komunitas, outlet pop-up, pengalaman retail yang tangible, atau integrasi QR/scan yang menghubungkan pengalaman di toko fisik dengan konten digital. Sinergi ini akan membuat pesan merk lebih hidup dan lebih dekat dengan keseharian konsumen.
Sahur Scroll di Tahun 2026
Sementara sahur scroll pernah menjadi fenomena kuat dalam beberapa Ramadan terakhir, efektivitasnya sebagai satu-satunya momen strategis untuk mendorong belanja di Ramadhan 2026 semakin terbatas. Perubahan perilaku konsumen, terutama ke arah yang lebih seimbang antara offline dan online, mengubah struktur perilaku belanja.
Dalam konteks ini, FULLSTOP Creative Agency Surabaya melihat bahwa fokus strategi tidak boleh hanya mengejar satu momen ritual digital. Strategi yang adaptif, relevan, dan kontekstual, yang memadukan pengalaman offline dan online dengan narasi yang kuat, akan jauh lebih efektif dalam membangun koneksi konsumen sepanjang Ramadan.
Ramadhan bukan sekadar waktu untuk menunggu sahur scroll. Momen ini adalah periode holistic di mana nilai, konteks, kebutuhan nyata, dan pengalaman menjadi fondasi kampanye yang benar-benar bekerja.