
“Katanya Si A…” The Power of Word-of-Mouth Marketing
“Katanya si A bagus banget.”
“Katanya si B sudah pakai dan hasilnya kelihatan.”
“Katanya brand itu sekarang lagi naik.”
Tiga kata sederhana: katanya si A.
Namun dalam praktik marketing, kalimat ini sering lebih kuat dari billboard 10 meter.
Jika pada artikel sebelumnya kita membahas pentingnya membangun komunitas sebagai fondasi, kali ini kita masuk lebih dalam pada efek dominonya: word-of-mouth marketing — mesin penggerak reputasi yang sesungguhnya.
Kenapa “Katanya” Lebih Kuat dari Iklan?
Dalam psikologi konsumen, ada konsep social proof. Orang cenderung mempercayai keputusan orang lain, terutama yang mereka kenal.
Iklan berbicara dari brand.
Word-of-mouth berbicara dari manusia.
Perbedaannya? Level trust.
Brand boleh mengklaim kualitas terbaik. Tapi ketika rekomendasi datang dari teman, keluarga, atau kolega, hambatan skeptisisme turun drastis. Itulah inti dari community marketing: membangun sekelompok orang yang dengan sukarela menjadi penyampai cerita brand.
Word-of-Mouth Bukan Kebetulan, Tapi Strategi
Banyak bisnis mengira word-of-mouth adalah efek samping dari produk bagus. Padahal dalam praktik branding modern, ia bisa dan harus dirancang. Di sinilah peran pendekatan strategis seperti yang sering diterapkan oleh FULLSTOP Branding Agency Indonesia. Word-of-mouth bukan hanya harapan, tapi outcome dari sistem:
- Positioning yang jelas
- Emotional hook yang kuat
- Community ecosystem yang terjaga
- Pengalaman brand yang konsisten
Tanpa itu, orang mungkin puas. Tapi belum tentu bercerita.
Dari Satisfaction ke Conversation
Banyak brand berhenti di “customer puas”. Padahal dalam dunia yang kompetitif, puas saja tidak cukup. Brand harus menciptakan pengalaman yang layak dibagikan.
Contohnya:
- Pelayanan yang unexpectedly thoughtful
- Packaging yang memicu rasa bangga
- Story brand yang relatable
- Momen kecil yang membuat orang merasa spesial
Inilah bentuk brand activation yang memicu percakapan, bukan sekadar transaksi.
Pendekatan ini sering menjadi fokus diskusi di berbagai creative agency Surabaya, karena pasar saat ini tidak lagi digerakkan oleh exposure, tetapi oleh engagement yang bermakna.
The Multiplier Effect: Satu Cerita, Banyak Dampak
Word-of-mouth bekerja seperti efek bola salju:
1 orang bercerita ke 3 orang.
3 orang itu bercerita lagi ke 5 orang lain.
Dalam beberapa minggu, reputasi brand bisa terbentuk tanpa tambahan budget iklan besar.
Namun ada satu syarat penting: Cerita yang dibagikan harus punya emosi.
Marah menyebar cepat. Kecewa menyebar lebih cepat. Bangga dan kagum? Itu yang harus brand ciptakan. Karena dalam sistem community marketing, emosi adalah bahan bakar utama.
“Katanya” Bisa Jadi Aset atau Ancaman
Menariknya, word-of-mouth bersifat netral. Ia bisa membangun, bisa juga menghancurkan.
Brand tidak bisa mengontrol apa yang orang katakan. Tapi brand bisa mengontrol pengalaman yang mereka ciptakan. Di sinilah pentingnya konsistensi brand — mulai dari visual, tone komunikasi, hingga kualitas produk.
Menurut pendekatan strategis yang sering digaungkan oleh FULLSTOP Branding Agency Indonesia, reputasi bukan dibangun dari satu campaign, melainkan dari repetisi pengalaman yang selaras. Karena sekali orang berkata,
“Katanya kurang bagus…”
Narasi itu akan sulit dihentikan.
Cara Membangun Mesin Word-of-Mouth yang Berkelanjutan
Agar “katanya si A” menjadi aset, brand perlu sistem yang jelas:
Fokus pada Core Audience
- Tidak semua orang harus suka. Tapi kelompok inti harus cinta.
- Inilah prinsip utama dalam community marketing — depth over width.
Ciptakan Shareable Moment
- Setiap brand activation harus punya elemen yang membuat orang ingin mengunggah atau menceritakan ulang. Bukan harus mewah, tapi harus meaningful.
Bangun Identitas yang Membuat Orang Bangga
- Orang tidak akan merekomendasikan brand yang tidak meningkatkan citra dirinya.
- Brand harus menjadi simbol value tertentu:
- Smart choice
- Premium taste
- Healthy lifestyle
- Trendsetter
- Strategi seperti ini sering dirancang bersama tim creative agency Surabaya yang memahami dinamika sosial lokal dan karakter target market Indonesia.
Rawat Hubungan, Bukan Sekadar Database
- Database adalah data. Komunitas adalah relasi. Pendekatan relational branding inilah yang menjadi fondasi banyak strategi dari FULLSTOP Branding Agency Indonesia dalam membangun brand jangka panjang.
Word-of-Mouth di Era Digital
Kini “katanya si A” tidak hanya terjadi di ruang tamu.
Ia terjadi di:
- WhatsApp group
- Instagram story
- TikTok comment
- Review marketplace
Digital mempercepat distribusi cerita. Namun prinsipnya tetap sama: Orang percaya orang.
Karena itu, strategi community marketing dan brand activation tidak boleh lagi dipisahkan dari strategi digital. Keduanya harus terintegrasi.
Dalam dunia yang penuh iklan, orang semakin kebal terhadap klaim brand. Namun satu kalimat sederhana masih punya kekuatan luar biasa:
“Katanya si A…”
Word-of-mouth marketing bukan sekadar efek samping dari bisnis yang baik. Ia adalah sistem reputasi yang harus dirancang. Brand yang ingin bertahan tidak cukup hanya viral. Mereka harus dipercaya.
Dan untuk membangun sistem kepercayaan itu, dibutuhkan strategi menyeluruh — mulai dari positioning, community ecosystem, hingga pengalaman brand yang konsisten — seperti yang banyak diterapkan oleh FULLSTOP Branding Agency Indonesia bersama berbagai brand di Indonesia, termasuk melalui kolaborasi dengan creative agency Surabaya yang memahami dinamika pasar lokal.