
3 Alasan GMV Affiliate Terus Menurun
Dalam dua tahun terakhir, affiliate marketing sempat dianggap sebagai mesin pertumbuhan tercepat untuk brand di marketplace dan social commerce. Banyak brand mengandalkan kreator untuk mendorong GMV tanpa harus membangun tim konten besar. Namun memasuki 2025, tren mulai berubah. GMV affiliate di banyak kategori justru melambat, bahkan menurun.
Dari sudut pandang FULLSTOP Branding Agency Indonesia, penurunan ini bukan semata karena “affiliate sudah tidak efektif”, melainkan karena perubahan perilaku konsumen dan kesalahan pendekatan dalam marketing strategy itu sendiri. Jika dirangkum, ada tiga alasan utama kenapa GMV affiliate tidak lagi segencar dulu.
Perubahan Perilaku Belanja: Tidak Semua Produk Cocok Affiliate
- Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap semua produk bisa dijual dengan cara yang sama. Faktanya, perilaku belanja konsumen sudah bergeser dibanding era pandemi. Untuk produk kebutuhan sehari-hari seperti bumbu masak, bahan dapur, atau produk FMCG tertentu, konsumen kini banyak kembali ke belanja offline.
- Ketika produk mudah ditemukan di minimarket atau pasar terdekat, urgensi untuk membeli lewat affiliate menurun. Konten sebaik apa pun sulit mengalahkan kenyamanan beli langsung. Dalam konteks ini, affiliate marketing tidak lagi menjadi channel utama, melainkan hanya pendukung.
- Tanpa pemahaman kategori produk, banyak brand tetap memaksa affiliate sebagai tulang punggung penjualan. Akibatnya, GMV stagnan dan performa terlihat menurun, padahal masalah utamanya ada pada kecocokan channel dengan produk.
Konten Affiliate Kehilangan Hook yang Kuat
- Alasan kedua datang dari sisi konten. Saat affiliate pertama kali booming, konten terasa segar, jujur, dan spontan. Kini, banyak konten affiliate terdengar datar, generik, dan terlalu mirip satu sama lain. Tidak ada punchline yang membuat orang berhenti menonton atau merasa perlu membeli sekarang.
- Masalah ini bukan semata kesalahan kreator. Dalam banyak kasus, affiliate dibiarkan menebak sendiri angle produk. Akibatnya, konten hanya berisi review permukaan tanpa narasi kuat yang bisa memicu keputusan beli.
- Dari perspektif marketing strategy, konten tanpa hook bukan hanya gagal menjual, tapi juga gagal membangun kepercayaan. Audience menonton, tapi tidak tergerak. Inilah salah satu penyebab GMV terlihat turun meskipun jumlah konten tetap banyak.
Brand Terlalu Lepas Tangan soal Product Highlight
- Affiliate bisa jago bikin konten, tapi bukan berarti mereka otomatis paham apa yang membuat produk brand layak dibeli. Di sinilah kesalahan besar banyak brand terjadi. Brand menyerahkan sepenuhnya pesan produk ke affiliate tanpa arahan yang jelas.
- Padahal, product highlight yang kuat—benefit utama, alasan pembeda, dan konteks penggunaan—harus datang dari brand. Tanpa arahan ini, affiliate hanya menebak-nebak benefit, atau malah fokus pada hal yang tidak relevan dengan target market.
- FULLSTOP Creative Agency Surabaya melihat bahwa GMV affiliate cenderung lebih stabil ketika brand aktif mengarahkan narasi, bukan mengontrol kreator. Affiliate tetap bebas berkarya, tetapi membawa pesan yang konsisten dan mudah dipercaya oleh audience. Tanpa ini, konten bagus sekalipun sulit mengonversi.
Affiliate Bukan Masalah, Strateginya yang Perlu Dievaluasi
Jika disederhanakan, penurunan GMV affiliate bukan karena channel ini sudah mati, melainkan karena ekspektasi brand yang tidak lagi selaras dengan realita market. Affiliate bukan solusi instan untuk semua produk, semua fase brand, dan semua tujuan penjualan.
Dalam marketing strategy yang matang, affiliate harus ditempatkan sesuai perannya: sebagai amplifier, bukan satu-satunya mesin penjualan. Ketika brand memahami konteks produk, kualitas konten, dan arah pesan, affiliate tetap bisa menjadi channel yang relevan dan berdampak.
GMV affiliate yang menurun seharusnya menjadi alarm, bukan vonis. Alarm bahwa brand perlu berhenti menyamaratakan strategi dan mulai membaca ulang perilaku konsumen. Dari pemilihan produk, kualitas hook konten, hingga kejelasan product highlight, semuanya saling terhubung. Eits… tapi bukan berarti affiliate marketing sudah tidak efektif lagi ya! FULLSTOP Branding Agency Indonesia percaya kok bahwa affiliate marketing masih punya masa depan. Asalkan… affiliate marketing itu dilakukan oleh brand yang mau go the extra mile untuk lebih strategis, bukan sekadar ikut tren.